Hadiah Resensi dari seorang Sahabat

Senin, 28 Desember 2009

Alhamdulillah, pekan ini mendapat sedikit angin segar, Seorang yang terkesan dengan buku saya Muhammad SAW the Inspiring Romance, berkenan menuliskan sebuah resensi sederhana dalam bentuk  note di jejaring pertemanan dunia maya : facebook. Sengaja kami pindahkan di sini, agar sahabat blogger optimis lainnya bisa ikut sedikit mengintip salah satu buku yang sudah saya tulis. Harapannya, itung-itung sekalian promosi. Selamat menyimak dan semoga terkesan untuk memfollow up dengan membeli. Salam optimis !

Sedikit Oleh-Oleh Habis Baca Buku “The Inspiring Romance”

oleh : Mochamad Husni

Romantisme biasanya lekat dengan Barat dan modern. Ambil contoh Paris. Ibukota Perancis ini dikenal sebagai kota cinta dan kota paling romantis di dunia. Valentine, Romeo and Juliet, seluruhnya tidak identik dengan Timur, apalagi Islam. Jarang, bahkan mungkin terasa amat mengherankan ketika disebutkan bahwa dunia Islam juga menorehkan sejarah dan romantisme yang sangat hebat.

Maka, ketika ada sebuah buku yang mengulas hadits-hadits sahih bukti romantisme nabi, sejatinya buku itu akan sangat menarik perhatian. Malah, kehadirannya sungguh dibutuhkan saat ini. Paling tidak, di samping menjadi referensi yang Islami, para pembacanya dapat menemukan trik-trik untuk menghindarkan diri serta melindungi keluarganya dari ancaman kehancuran rumah tangga yang datangnya tak disangka-sangka. Bukan apa-apa, sekuat-kuatnya godaan dari luar, yang jauh lebih penting sebagai benteng pertahanan rumah tangga adalah harmoni suami istri. Salah satunya: dengan romantisme yang tak pernah padam.

Sungguh, rasa cinta itu memang perlu terus dibakar agar tetap menyala dan menghangatkan rumah tangga. Di sinilah arti penting buku ”Muhammad SAW, The Inspiring Romance” yang ditulis Hatta Syamsuddin Lc. Simak saja beberapa ide dari total 40 inspirasi yang dilengkapi hadits-hadits dan kisah yang kabarnya terkumpul secara tak sengaja karena didorong keingintahuan sarjana lulusan fakultas syariah Universitas International Afrika ini menemukan jejak-jejak romantisme ala rosululloh.

Beberapa diantaranya: “Cucilah pakaianmu wahai para lelaki, ambillah (cukurlah) sebagian rambutmu, bersiwaklah kamu, berhiaslah dan bersucilah, karena Bani Israil tidak melakukan ini padahal istri-istri mereka berhias”. Hadits yang diriwayatkan HR Ibnu Sakir ini mengajarkan para suami untuk menjaga penampilan, baik pakaian, rambut, kumis, jenggot dsb. Jangan acuh, karena tampilan inilah yang ditatap oleh mata pasangan Anda. Meski sederhana, ia bisa menggetarkan.

Atau juga hadits berikut ini. Dari Miqdad bin Ma’ad ra, Rosululloh SAW mengajarkan, ”Apabila seseorang mencintai saudaranya, hendaklah ia memberitahu kepadanya bahwa ia mencintainya. (HR Tirmidzi, Abu Daud dan Ahmad. Hadits ini mengingatkan kita untuk tak pernah bosan mengungkapkan kata cinta. Meskipun cinta bukan sekadar kata, namun ia tetaplah membutuhkan sebuah pengakuan.

Banyak lagi contoh lain yang telah nabi praktekkan dalam membuat hati istri beliau tergetar dan merasakan cinta yang tak pernah dingin. Ada kisah yang mencontohkan betapa perlunya sesekali makan bersama dalam satu piring. Ada juga inspirasi dari satu hadits berikut yang sudah cukup populer disebutkan dalam kisah-kisah percintaan nabi. ”Adalah aku pernah mandi bersama Rosululloh dari satu bejana antara aku dan beliau...” Hadits yang diriwayatkan Aisyah ra ini juga mencontohkan bahwa mandi bareng bisa memicu kehangatan ikatan suami istri.

Masih banyak lagi hadits-hadits lain yang dipaparkan. Efek psikologis penulis yang masih relatif muda menjadi kekuatan tersendiri buku setebal 304 halaman terbitan Indiva Media Kreasi tahun 2007 ini. Inspirasinya sangat kontemporer dan gaul. Cocok dijadikan referensi oleh setiap pasangan yang baru menikah. Jurusnya tak butuh modal besar. Rasanya, unsur kemahasiswaan saat buku ini diselesaikan membuat penulisnya justru kreatif menggali ide serta mengadaptasi praktek yang pernah diterapkan nabi. Maka, tertulislah ide-ide cerdas nan produktif semisal, diskusi dan sharing buku bacaan, saling mengajarkan dan bertukar keterampilan, merangkai puisi dan untaian kata mesra, dll.

Yang tidak kalah menarik, bukan hanya kreatifitas dalam menghangatkan rumah tangga. Sebagai sebuah buku dakwah, penulis mengarahkan pembacanya untuk meletakkan cinta keluarga di tempat yang sepantasnya. Untuk ini hadits yang cukup mewakili berbunyi, ”Sesungguhnya cinta mulia berasal dari iman”. Karena itu, pekerjaan berat dan indah dalam seluruh aktivitas cinta keluarga haruslah berpengaruh pada peningkatan keimanan si pencinta.

Kalaulah ingin disebutkan kekurangan, sayangnya buku ini tidak memberi perhatian khusus pada isu seputar poligami. Padahal, tiap kali masalah rumah tangga dikaitkan dengan dunia Islam, tudingan miring yang dilandasi kecurigaan atas kecurangan dan ketidakseimbangan posisi laki-laki terhadap perempuan selalu muncul. Apalagi, istri-istri nabi juga menghadapi kendala-kendala emosional seperti cemburu dan semacamnya. Pertanyaannya, bukan sekadar bagaimana hadits-hadits nabi mencontohkan management cinta pada beberapa pasangan, tetapi juga bagaimana agar para lelaki tidak asal mengutip ”sunnah rosul” untuk membenarkan poligami yang mereka lakukan.

Note: Pro Ustadz Hatta,
afwan ya akh... resensi kecil2annya baru sempat saya ketik. Semoga bukunya makin banyak dibaca dan terus berkarya lagi.Syukron

sumber MOCHAMMAD HUSNI on FB
Lanjutkan ...

Dari Hina menjadi Mulia !

Jumat, 25 Desember 2009

Seorang budak muslim keturunan Persia hidup di masa Rasulullah SAW, mengabdi pada keluarga Abu Hudzaifah.  Perbudakan pada masa itu adalah warisan sistem jahiliyah yang begitu mendarah daging dalam kehidupan masyarakatnya. Manusia yang sejatinya mulia tiba-tiba teronggok seolah-olah menjadi barang dagangan yang bisa dijual kapan saja sesuka hati. Tak ada kemuliaan yang tersisa.

Budak itu bernama Salim, dikemudian hari ia dimerdekakan oleh Abu Hudzaifah sehingga sering dikenal dengan Salim maula abi hudzaifah. Setelah merdeka, ia tidak puas begitu saja. Salim segera membenahi kekurangannya selama ini, maka ia segera mempelajari Al-Quran, membaguskan bacaannya dan memperbanyak hafalannya.

Kesungguhan Salim mencari ilmu segera berbuah. Dulu ia adalah budak yang benar-benar diremehkan harga dirinya. Ilmunya tentang Al-Quran telah memuliakan dirinya. Sebelum Rasulullah SAW sampai di Madinah pada peristiwa hijrah, Salim menjadi imam dari para sahabat di Masjid Quba. Hal ini karena ia mempunyai hafalan Al-Quran yang lebih banyak dari yang lainnya, bahkan dari seorang Umar bin Khotob sekalipun. Lebih dari itu, Rasulullah SAW pun memerintahkan para sahabat untuk mengambil bacaan al-Quran dari 4 orang, salah satunya adalah Salim maula Abu Hudzaifah.

Bukan itu saja, Salim yang notabene adalah mantan budak ternyata dicalonkan menjadi Khalifah oleh Umar bin Khotob ! Sebuah jabatan yang diyakini oleh semua muslim membutuhkan syarat-syarat yang berat dan mulia ! Umar bin Khotob dengan lugas mengatakan di akhir masa kepemimpinannya :  Seandainya satu dari dua orang ini masih hidup, niscaya aku akan tenang jika kekhalifahan ini diserahkan kepadanya ; mereka adalah Salim maula Abu Hudzaifah dan Abu Ubaidah Al-Jarroh !

Kemuliaan Salim berlanjut hingga akhir hayatnya di kancah jihad fi sabilillah. Adakah kematian yang lebih mulia dari syahadah ? Dalam perang Yamamah, Salim dipercayakan memegang panji kebesaran pasukan muslimin. Dalam sebuah riwayat diceritakan, saat pasukan muslim terdesak dan mulai terpecah-pecah, Salim berseru lantang : " Bukan seperti ini kita dahulu berperang bersama Rasulullah SAW! ". Serta merta  ia menggali lobang kecil dan memasukkan kedua kaki ke dalamnya agar tidak ikut berlari bersama yang lainnya. Maka kemudian ia terus berperang mempertahankan panji kaum muslimin dengan segenap tenaganya. Ketika tangan kanannya terputus akibat tebasan musuh, segera tangan kirinya menyambar panji yang hampir terjatuh menyentuh tanah. Tak lama kemudian tangan kirinya pun dibabat lawan dan segera ia memeluk panji dengan tubuhnya yang tersisa. Ia terus berperang mempertahankan panji itu hingga syahadah menjemputnya. Tubuhnya jatuh tersungkur ke bumi, namun arwahnya membumbung tinggi ke langit sana. Perjuangannya baru saja usai, berganti kebahagian sejati disisi tuhannya. Hidup mulia dan mati mulia.

Apa yang membuat sang mantan budak ini merubah kehidupannya dari kehinaan menjadi bertebar kemuliaan ? Apakah yang membuat seorang mantan budak dipercaya menjadi imam sholat di depan para sahabat yang mulia ? Bahkan Rasulullah SAW merekomendasikan namanya untuk menjadi guru Al-Quran bagi seluruh sahabat bahkan umatnya ? Apa juga yang membuat seorang Umar bin Khotob mengaguminya dan meyakini kemampuannya menjadi khalifah ?

Barangkali jawaban yang paling realistis adalah karena ilmu yang ia punya. Kemuliaan segera bersanding pada dirinya ketika ia bertekad untuk mempelajari al-Quran yang mulia, mempelajari bacaannya dan juga menghafalnya. Ilmu telah mengubah Salim sang mantan budak itu menjadi begitu mulia. Mulia melebihi sahabat lainnya para pembesar kaumnya.

Contoh di atas baru satu cerita. Saya percaya, disekitar kita banyak orang yang terangkat kemuliannya karena ilmunya. Orang miskin menjadi disegani, dihormati, karena ilmu yang diraihnya. Wong ndeso  yang senantiasa terpuruk menjadi diperhitungkan karena ilmu yang dikuasainya. Bahkan orang cacat – maaf , yang awalnya sering diremehkan, dijauhi atau justru dikasihani menjadi dihormati, disegani, bahkan ditakuti. Asy-Syaikh Dr. Sulaiman Karom, dosen sekaligus Ketua Jurusan Syariah di kampus tempat saya belajar di Sudan, adalah seorang dengan kaki yang cacat hingga mengharuskan beliau harus berjalan dari kelas ke kelas dengan tongkat penyangga. Saya yakin, semua mahasiswa pasti mengagumi dan memuliakannya. Tidak pernah terbersit dalam hati mereka untuk meremehkan, kasihan, apalagi menjauhinya. Ilmunya yang begitu luas telah memuliakannya di hadapan kami para mahasiswanya. Menghormati dan mencintainya dengan tulus tanpa pamrih apapun.
Itu semua adalah contoh di dunia, di akhirat tentu mereka jauh lebih mulia. Lebih dari yang kita kira !
Lanjutkan ...

Mengelola Keberanian

Jumat, 18 Desember 2009
Kegelisahan melanda sebagian besar pemuka Quraiys. Gurat wajah mereka mengeras penuh beban. Kabar angin bahwa beberapa penduduk Yatsrib telah masuk Islam dan siap menampung kaum muslimin membuat mereka tak bisa lagi terlelap. Belum lagi saat Rasulullah SAW benar-benar menyuruh kaum muslimin untuk berhijrah ke negeri impian itu, mereka pun meningkatkan siksaan pada kaum muslimin yang tersisa di tanah suci. Berbondong-bondong, pelan namun pasti, kaum muslimin berhijrah dari Mekah ke Yatsrib dengan sembunyi-sembunyi. Dan pasukan Quraiys pun semakin meningkatkan penjagaan batas kotanya.
Lanjutkan ...

Kristalisasi Keringat

Sabtu, 12 Desember 2009
Istilah di atas mungkin sering kita dengar sambil lalu dengan sedikit menyungging senyum. Karena yang menyampaikannya adalah seorang yang Tukul yang selalu mengundang tawa. Tapi sejatinya ia tidak sedang bercanda saat menyebutkan istilah ‘keramat’ di atas. Ia hanya ingin menyederhanakan sebuah usaha perjuangan yang dirintisnya selama tujuh belas tahun di Jakarta dengan ungkapan ‘kristalisasi keringat’ !.  Sebuah ungkapan yang menggambarkan sebuah kerja keras bertahun-tahun, yang dihiasi cucuran keringat dan derai air mata, akhirnya membuahkan hasil yang membuat orang segera membelalakkan mata. Dari wong ndeso kampung Purbayan, menjadi entertaint yang sukses di belantara ibu kota, tetapi masih tetap menjaga kesederhanaannya.  Bahkan acara Just Alvin di Metro Tv beberapa hari yang lalu menyebut Tukul dengan The Power of Dream.
Lanjutkan ...

My Blog Contents

Kamis, 10 Desember 2009

Tak terasa sudah lebih dari setahun kami mengelola blog ini, bertemu dengan banyak sahabat blogger, saling berbagi inspirasi dan motivasi. Untuk memudahkan sahabat blogger yang berkunjung di blog sederhana kami INDONESIA OPTIMIS,  kami postingkan daftar artikel yang ada dari mulai yang paling lama hingga yang terbaru nantinya. Insya Allah akan selalu diupdate. Semoga bermanfaat dan salam optimis !
Lanjutkan ...